Tips Menulis Novel ala Tere Liye

Suka Tulis

Ilustrasi
Ilustrasi

Iqbal Perdana | DETaK

Darussalam – Darwis Tere Liye, siapa yang tidak mengenal novelis satu ini. Kiprahnya di dunia menulis patut diancungi jempol. Betapa tidak, ia telah menggarap banyak judul novel, di antaranya; Semoga Bunda Disayang Allah (2007), Hafalan Sholat Delisa (2007), Bidadari-bidadari Surga (2008), Rembulan Tenggelam di Wajahmu (2009) dan Pukat (2010).

Novel “Hafalan Sholat Delisa” yang mengangkat kisah keluarga Delisa yang selamat dari bencana tsunami Aceh. Karyanya itu saat ini telah difilmkan dan diputar serentak di bioskop-bioskop Indonesia pada 22 Desember 2011 lalu.

Dalam rangka peluncuran dan diskusi novel “Marwah di Ujung Bara” karya Rh. Fitriadi di gedung AAC Dayan Dawood Unsyiah, Minggu (8/1/2012) pagi, Tere Liye berkesempatan hadir menjadi salah seorang pemateri dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh itu.

Lihat pos aslinya 529 kata lagi

ENAM PESAN DARI IMAM AL-GHAZALI

Assalamu’ alaikum wr wb,

Kadang kita tidak sadar akan diri dan hakikat hidup kita, padahal imam Ghazali pernah berpesan kepada murid sewaktu beliau berdiskusi kepada murid2nya:

1. Imam Ghazali: ” Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?

Banyak sebagian muridnya menjawab:
Murid a = ” Orang tua “
Murid b = ” Guru “
Murid c = ” Teman “
Murid d = ” Kaum kerabat “Dekat

Imam Ghazali: ” apa yg kalian jawab itu adalah benar, akan tetapi ada yg lebih dekat dari jawaban kalian yaitu MATI, karena itu adalah pasti dan itu adalah janji Allah ” setiap yang bernyawa pasti akan mati” (Surah Ali-Imran :185)

Imam Ghazali kembali bertanya: ” Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ?” Baca lebih lanjut

Enam Perkara Syarat – Syarat Yang Harus Dipenuhi Dalam Melaksanakan Ibadah

Tausiyah In Tilawatun Islamiyah

Oleh

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin

Perlu diketahui bahwa mutaba’ah (mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) tidak akan tercapai kecuali apabila amal yang dikerjakan sesuai dengan syari’at dalam enam perkara.

Pertama : Sebab.

Jika seseorang melakukan suatu ibadah kepada Allah dengan sebab yang tidak disyari’atkan, maka ibadah tersebut adalah bid’ah dan tidak diterima (ditolak).

Contoh : Ada orang yang melakukan shalat tahajud pada malam dua puluh tujuh bulan Rajab, dengan dalih bahwa malam itu adalah malam Mi’raj Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (dinaikkan ke atas langit). Shalat tahajud adalah ibadah, tetapi karena dikaitkan dengan sebab tersebut menjadi bid’ah. Karena ibadah tadi didasarkan atas sebab yang tidak ditetapkan dalam syari’at. Syarat ini -yaitu : ibadah harus sesuai dengan syari’at dalam sebab – adalah penting, karena dengan demikian dapat diketahui beberapa macam amal yang dianggap termasuk sunnah, namun sebenarnya adalah bid’ah.

Kedua : Jenis.

Artinya : ibadah harus sesuai dengan…

Lihat pos aslinya 367 kata lagi